GENERASI MILENIAL DENGAN POSITIVE SELF CONCEPT



Oleh: Neny Arifah


Revolusi industri 4.0 membawa perubahan yang sangat fundamental. Perubahan bak super scan yang membuat kita takjub dan terperangah dengan banyaknya perubahan gaya hidup. Digitalisasi merambah semua sektor kehidupan, termasuk pendidikan. Semua menjadi lebih mudah, cepat, murah, dan terjangkau. Itulah fenomena  abad 21, kehidupan yang menuntut manusia memiliki kompetensi berpikir kritis, kreatif, inovatif, kolaboratif, komunikatif, berfikir komputatif, dan berkarakter. Jika kita tidak cepat beradaptasi niscaya akan tergilas kemajuan zaman. Lantas bagaimana fakta di lapangan? sudah siapkah anak-anak kita? bagaimana gerak kita sebagai insan pendidikan?  bagaimana pula kesadaran orang tua dalam mendampingi anak? dan seabrek  pertanyaan yang menantang beragam jawaban.

Sebagai guru kita mendidik anak dengan segala keunikannya. Dalam perjalanan waktu kita sering menemukan anak-anak  berbakat, cerdas, berprestasi, dan religius yang sanggup mengharumkan nama sekolah. Namun tidak kita pungkiri, hampir setiap tahun ditemukan sejumlah anak bermasalah yang memerlukan perhatian khusus dari guru dan orang tua, meskipun prosentasenya tidak terlalu besar. Pada poin inilah menjadi peluang guru untuk meningkatkan perannya sebagai motivator, inspirator dan coaching yang mempertaruhkan waktu dan energinya untuk mendampingi anak meraih masa depan. Mengapa demikian? karena problema anak, Ibarat api dalam sekam, nampak di permukaan hanya asap yang tidak membahayakan, ternyata di dalamnya ada bara api yang siap menghanguskan apa pun di sekitarnya. Demikian juga dengan anak bermasalah, jika tidak segera diatasi akan berpotensi menghambat penyiapan generasi emas yang akan meneruskan estafet kepemimpinan masa depan.

Persoalan remaja biasanya ditunjukkan dalam bentuk perilaku malas belajar, apatis, pergaulan bebas, terlibat gank, tawuran, penyalahgunaan narkoba, kecanduan gadget dan yang lainnya. Sebut saja Raja (nama samaran) seorang siswa kelas VII SMP, dalam keseharian Ia selalu menunjukkan perilaku yang menyita perhatian guru dan teman-temannya. Ia suka berlari-lari di dalam kelas, gaduh, berteriak-teriak, menyakiti teman, malas mengerjakan tugas, tidak punya catatan, dan sering tertidur saat pembelajaran berlangsung. Hasil tes psikhologi menunjukkan Ia berada dalam klasifikasi lambat belajar. Lain dengan dengan Siska (nama samaran), siswa kelas IX. Sikapnya apatis, sering membolos, tidak disiplin, buku kerja kosong, suka membual, suka up date foto vulgar, dan hasil belajarnya rendah. Dua ilustrasi tersebut merupakan gejala anak bermasalah. Berdasar hasil pengumpulan data, ditemukan salah satu penyebabnya adalah rendahnya konsep diri. Merupakan tugas guru dan konselor untuk membantu anak membangun konsep diri positif, karena jika dibiarkan akan mengganggu perkembangan kompetensinya, dan berakibat fatal pada hasil belajar.

Dalam membantu anak, guru perlu memahami kepribadiannya, ada anak yang dapat dengan mudah mengeksplorasi diri secara terbuka, kemudian merefleksi diri dan memikirkan solusinya, namun ada juga yang tertutup, pendiam, bahkan nyaris membisu ketika diajak berkomunikasi. Ketika ditanya jawabannya seputar “Ya” atau “Tidak”, kadang didukung dengan sikap acuh, tertutup seakan tidak ada masalah pada dirinya. Menyikapi hal itu guru harus dapat memilih pendekatan yang sesuai dengan kepribadian anak. Kepribadian merupakan totalitas yang dinamis, di dalamnya terdapat sejumlah aspek yang  berkembang berdasarkan kematangan, pembawaan, dan pengalaman dalam berinteraksi  dengan lingkungan.

Pada kesempatan ini kita akan membahas tentang satu aspek kepribadian yang melatarbelakangi perilaku anak, yaitu Self Concept . Perlu dipahami, bahwa semua tipe kepribadian merupakan aktualisasi dari konsep diri (Self Concept). Konsep diri adalah persepsi seseorang terhadap dirinya, baik berkaitan dengan bakat, minat, kemampuan, penampilan fisik, psikhis, sosial, moral, dan nilai kehidupan. Ia terbentuk melalui pengalaman dan interaksi dengan lingkungan. Konsep diri idealnya dibangun sejak masa usia dini atau masa golden age.  Masa kritisnya terjadi saat anak-anak memasuki pendidikan dasar. Jika anak memiliki konsep diri positif (Positive Self Concept), ia akan menghargai dirinya dan mampu melihat sisi positif dari setiap kejadian agar lebih berkembang di masa depan. Sebaliknya jika anak memiliki konsep diri negatif, ia akan berpribadi lemah, tidak mandiri, tidak mampu menyelesaikan tugas, apatis, pasif,  motivasi rendah, dan mudah putus asa.

Carl Rogers, seorang ahli psikhologi humanis (DosenPsikhologi.com) mendiskripsikan  tiga komponen yang bertautan dalam konsep diri. Pertama. Diri Ideal (Self Ideal), merupakan gambaran sosok yang diinginkan anak di masa depan. Sebagai contoh, anak ingin menjadi pengusaha sukses, motivator, da’i, artis, penyanyi, ilmuwan, dokter, guru, dan sebagainya. Gambaran diri biasanya diperoleh dari pengalaman mendengar, membaca, atau bertemu dengan tokoh hebat, sukses, pintar, bijaksana dan sebagainya. Berdasar pengalaman itu anak terinspirasi dan  ingin menjadi seperti idola mereka. Self ideal ini tidak stagnan, melainkan berubah-ubah dipengaruhi oleh pengalamannya. Ia menentukan arah pengembangan diri, pertumbuhan karakter dan kepribadian.

Kedua, Citra Diri (Self Image) adalah bagaimana anak melihat dan berpikir tentang dirinya saat ini. Apakah anak memandang dirinya sebagai anak cerdas, aktif, percaya diri, banyak teman, suka tantangan, ataukah sebaliknya, pemalas, tidak berbakat, tidak menarik, memalukan, pelit, kasar, ditakuti teman, dan sebagainya.
Ketika anak melihat dirinya memiliki rasa percaya diri, maka anak akan berperilaku percaya diri. Sebaliknya ketika anak melihat dirinya sebagai person yang lemah, tidak berdaya maka Ia akan menampilkan pribadi yang rendah diri atau minder. Akibatnya anak cenderung menarik diri, tidak suka bergaul, cuek, serta memiliki motivasi rendah. Citra diri merupakan komponen konsep diri yang paling penting. Ketika anak melihat kesuksesan dalam cermin dirinya, maka Ia akan berhasil layaknya orang sukses.

Ketiga, Harga Diri (Self Esteem) merupakan gambaran anak dalam menghargai dirinya, kecenderungan untuk memandang diri sebagai pribadi yang mampu menghadapi tantangan dan merasa layak untuk hidup bahagia. Semakin anak menerima diri apa adanya, menghargai dan mencintai dirinya dengan baik, maka makin tinggi harga dirinya. Jika itu terjadi maka anak  akan menjadi pribadi positif dan bahagia. Pikiran positif melahirkan kekuatan untuk berprestasi. Harga diri merupakan hasil perbandingan antara self  ideal dengan Self Image. Jika Self Image anak sejalan atau mendekati Self ideal nya, maka harga dirinya akan tinggi. Sebaliknya jika Self Image anak tidak sejalan, atau jauh dari Self ideal nya, maka harga dirinya akan rendah. Self Esteem (harga diri) merupakan komponen yang paling penting dalam menentukan sikap dan kepribadian.  

Menjadi tugas guru untuk membantu anak memiliki konsep diri positif terhadap dirinya. Mengingat konsep diri dapat diubah dan dibentuk, meskipun tidak mudah, dan membutuhkan waktu serta kerja sama yang intens antara guru, anak dan orang tua. Anak harus memiliki komitmen kuat, visi hidup yang jelas. Orang tua dan guru memberikan perhatian dan dukungan untuk mewujudkan konsep diri positif. Lantas bagaimana kita dapat mendorong anak-anak untuk yakin terhadap kemampuannya? Berikut adalah beberapa tips yang dapat dilakukan guru untuk membantu anak membangun konsep diri positif (Positive Self Concept)  antara lain:  
  1. Melatih anak menghargai diri sendiri. Pola asuh guru dan orang tua berperan besar dalam menentukan konsep diri anak. Secara tidak langsung, guru dan orangtua telah mengajarkan anak bahwa dirinya berharga. Perasaan dicintai dan dihargai membuat anak merasa percaya diri. Anak-anak pun merasa keberadaannya bermakna dan dibutuhkan. 
  2. Ketika anak melakukan kesalahan, jangan langsung menjustice, pelajari penyebabnya, gunakan kalimat positif, sikapi dengan acceptance (pemahaman), diskusikan bersama anak mengenai solusi dari masalah yang dihadapi.
  3. Hindari pemberian label atau predikat buruk pada anak. Dalam kondisi apapun, jangan pernah memberikan label negatif kepada anak. Karena kata-kata itu akan melekat dalam memori anak, otak anak mudah menyerap apa yang didengar dan dilihat, sehingga akan membentuk konsep diri negatif. Maka stop label atau predikat buruk. 
  4. Hindari membandingkan anak dengan orang lain. Anak-anak adalah amanah, mereka memiliki keunikan masing-masing. Maka jangan bandingkan anak dengan  orang lain, temukan kelebihan dan kekurangannya, terima dengan syukur. Bantu anak mengembangkan kelebihan melalui berbagai kegiatan di sekolah sesuai passionnya, dan  kelola kekurangannya menjadi kelebihan. 
  5. Menggali potensi anak. Kenali potensi anak secara utuh. Sekolah mengoptimalkan peran konselor, wali kelas, dan guru, serta membangun jejaring dengan lembaga psikhologi  untuk mengumpulkan data psikhologis, akademis dan non akademis untuk memotret potensi anak.
  6. Berikan keteladanan yang menginspirasi sehingga anak akan mengidentifikasi perilaku guru sebagai idola yang dirindukan.
  7. Berikan tantangan sesuai tahap perkembangan. Libatkan anak dalam kegiatan sekolah dan berikan kepercayaan mulai dari hal yang sederhana. Melalui diskusi, guru dan anak membuat kesepakatan, baik berupa ucapan, sikap perilaku, pembiasaan positif, dan lainnya. Ketika anak menunjukkan kemajuan guru memberikan penghargaan, sebaliknya jika anak belum melakukan perubahan Ia mengerti  konsekwensinya. Budayakan komitmen dan tanggungjawab melalui program sekolah.
  8. Lakukan konseling terhadap anak yang membutuhkan perhatian khusus. Konseling merupakan upaya membantu anak mengenali dirinya, mengidentifikasi masalah dan penyebabnya, serta menemukan alternatif pemecahannya. Dalam proses konseling ini difokuskan pada eksplorasi dan internalisasi nilai kehidupan, bahwa melalui pertolongan Allah SWT, setiap orang dapat menyelesaikan masalahnya, mampu bersikap terbuka terhadap keberhasilan dan kegagalan, menerima diri apa adanya, mengembangkan sikap emphati dan simpati kepada orang lain, mampu mengambil keputusan terbaik atas masalah yang dihadapinya, peka terhadap setiap informasi, dan umpan balik, serta memandang diri sebagai manusia yang berharga dan dapat berkontribusi di lingkungan.

Berdasar uraian di atas, dapat disarikan ada delapan tips yang diterapkan untuk membangun positif self concept anak. Lakukan semua tips secara tulus, dukung dengan penguatan verbal dan non verbal, niscaya akan terjalin kedekatan yang mendorong anak merasa nyaman, terbuka memperbaiki diri menuju generasi milenial berkarakter. Semoga bermanfaat.
Salam Literasi.

Comments

  1. Tulisan yg bermutu. Padat konsep, kaya nilai, mendasar, dan menyasar.
    Mengalir sampai jauh.

    #Sukses selalu
    #Salam Literasi
    #Salam Lembayung Rindu
    #Website SRA IGI Jatim selalu di hati

    ReplyDelete
  2. Sangat menginspirasi bunda..
    Love u full

    ReplyDelete
  3. Bisa menjadi salah satu trik bagi guru dalam mendidik siswanya....trmksh....

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Peran Serta Masyarakat dalam Mewujudkan SRA di UPT SMP N 1 Sanankulon Kab. Blitar

SOSIALISASI SRA DI LAMONGAN, UPAYA WUJUDKAN KABUPATEN LAYAK ANAK